Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
PENJELASAN

PENJELASAN

"Tok..tok...tok...Assalamualaikum...," terdengar suara pria dari luar pintu rumah Karin. Mendengar suara pria di luar rumahnya itu, membuat Karin merasa benar-benar tidak nyaman. Dia yakin itu adalah suara Farzam. Dan dia sudah bertekad untuk tak lagi berhubungan dengan Farzam, setelah dia melihat ada kedekatan antara Farzam dan Anggi. Dan kemarin Karin memang sengaja menghindar darinya. Karin juga memblokir no hp Farzam sehingga dia tak bisa menghubunginya. Dia benar-benar tidak ingin berkomunikasi lagi dengan pria yang sempat dia harapkan menggantikan Rangga dalam hidupnya.

"Karin... ada temanmu itu, namanya Farzam." ucap ibunya sembari melangkahkan kakinya memasuki kamar Karin. Ibunya tak tahu apa yang terjadi pada anaknya, tapi dia tahu kalau putrinya itu sedang ingin sendiri. Sejak kemarin Karin lebih sering berada di kamar dari pada berbaur dengan bapak dan ibunya. Dan kalau sudah begini, ibunya sangat paham, bahwa putri tunggalnya ini sedang ada masalah dan tak ingin diganggu oleh siapapun.
"Apa ibu harus mengatakan kamu tidak di rumah nak? " tanya ibu pelan. Tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Karin, kecuali dia menangganggukkan kepalanya. Melihat hal itu, ibunya pun segera berlalu meninggalkan putrinya itu. Ia pun bergegas menuju ke teras rumah menemui tamu pria teman Karin.
" Maaf nak Farzam, Karin sedang sakit, dan tidak bisa di temui sekarang. Apa ada pesan yang bisa ibu sampaikan untuknya?" tanya ibu Karin pada Farzam dengan senyum yang ramah.
"ohhh...iya bu...sebenarnya saya sendiri bingung bu. Kemarin saya dan Karin janjian untuk ketemu di stasiun. Dan saya pun sudah sempat melihatnya. Tapi tidak tahu kenapa tiba-tiba Karin menghilang begitu saja. Bahkan nomor hp saya ikut di blokir. Saya jadi bingung bu. Apa salah saya padanya, sehingga dia menghindari dari saya dan tidak mau ketemu saya lagi. Kalau memang saya punya salah padanya, tolong sampaikan permintaan maaf saya padanya, ya bu. Tapi saya pun mohon supaya nantinya Karin bisa memberi kejelasan apa kesalahan saya padanya, setelah ini." pinta Farzam dengan wajah memelasnya.

Mendengar keinginan Farzam, ibunya pun mencoba untuk mengerti, dianggukkan kepalanya berkali-kali, sambil berpikir tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Oh ya...tolong sampaikan juga ke Karin, agar dia membuka blokirannya, kalau memang dia tak mau bertemu lagi dengan saya. Agar kita bisa berkomunikasi, sehingga jelas semuanya. Terima kasih sebelumnya ya bu. Dan sekalian saya mohon pamit," ucap Farzam. Diulurkannya tangan kekar miliknya kearah ibunda Karin. Tak menunggu lama, segera tangan itu pun disambut oleh tangan ibunya Karin. Di cium nya tangan wanita yang sudah melahirkan Karin dengan santun. Ibu Karin pun tersenyum dan tampak senang melihat kesopanan yang ditunjukkan Farzam.

"Iya nak Farzam nanti ibu sampaikan. Ibu minta maaf dengan kelakuan putri ibu yang tidak sopan kepadamu ya." Kalimat yang bijak itu meluncur diantara senyuman tulus yang terukir di wajah ibu Karin.
"Iya bu, sama-sama. Mari bu saya pergi dulu." senyum Farzam pun tersungging di pipinya.
"Hati-hati nak Farzam." Pesan wanita setengah baya yang masih terlihat cantik itu. Farzam pun segera membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan rumah wanita yang membuatnya gundah gula aja.
*
Anggi dan Rangga ...Nama itu kembali mengganggu pikiran Karin. Setelah setahun lebih sudah semua pengkhianatan itu, berlalu, dan Karin sudah mampu melupakannya. Dia pun sudah berani untuk membuka harapan baru untuk Farzam. Tapi kenapa semua hancur kembali dengan kehadiran Anggi diantara mereka berdua. Karin masih ingat betul saat Farzam memanggil Anggi dengan sebutan sayang. Ada hubungan apa antara Farzam dan Anggi? Kalau mereka adalah sepasang kekasih, bagaimana dengan Rangga? Apa yang terjadi dengan hubungan mereka? Apakah mereka sudah putus? Terus kalau Farzam dengan Anggi ada hubungan, kenapa Farzam seperti memberi harapan padanya? Ahh...pertanyaan yang selalu muncul di pikiran Karin ini benar-benar mengganggu hidupnya. Meski dalam hatinya ingin tahu jawaban yang sebenarnya tapi dia takut tahu kenyataannya. Dia tak ingin hatinya sakit lagi jika ternyata Farzam memang ada hubungan dengan Anggi. Itu artinya, Karin terluka untuk kedua kalinya oleh Anggi.

Lamunannya pun terhenti. Karin yang tengah menyapu halaman rumah, kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba berdiri dihadapannya seorang pria yang sudah dikenalnya sejak kecil itu. Farzam, pria yang menggendong tas rangsel itu tersenyum kearah Karin. Jantung Karin berdetak kencang. Sebulan sudah berlalu saat Karin meninggalkannya di stasiun kereta. Tentu saja Karin tak pernah membayangkan Farzam akan kembali datang menemuinya.

"Karin...," sapa Farzam. Wajah Karin pun langsung memucat. Aliran darahnya seakan berhenti di dalam tubuhnya.
"Ka...kamu...kenapa kamu datang lagi ke sini." tanya Karin gugup. Ingin rasanya Karin berlari meninggalkan Farzam. Dia tidak ingin hatinya tersakiti lagi karena mencintai pria yang mencintai wanita lain. Wajahnya tertunduk, dan jantungnya masih saja berdetak tak teratur.
" Karin...aku hanya butuh penjelasan dirimu, kenapa kamu tiba-tiba pergi menghindariku, setelah kamu memberi harapan padaku." suara Farzam terdengar tegas. Dia tahu kalau Karin tidak nyaman bertemu dengannya.
"Satu bulan aku hidup dengan rasa penasaran atas sikapmu padaku. Kamu pergi begitu saja setelah kamu pupuk semua rasa dihatiku. Aku mencintaimu Karin...aku berharap kamu merasa menjadi istriku. Tapi kenapa tiba-tiba kamu pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa penjelasan...? Suara Farzam meninggi. Karin kaget mendengar kalimat yang keluar dari bibir Farzam.
"Bagaimana mungkin Farzam mencintaiku. Bukankah sudah ada Anggi di sampingnya." Batin Karin. Batin Karin berkecamuk. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dia katakan pada Farzam. Jujur dia memang pernah mencintainya dan berharap padanya. Tapi Anggi, kenapa harus ada dia diantara mereka. Siapa Anggi bagi Farzam? Pertanyaan ini kenapa tak mampu keluar dari bibir Karin. Kenapa Karin hanya terdiam membisu. Bahagia dalam hatinya karena kata cinta yang meluncur dari mulut Farzam tak mampu menghapus keraguan akan perasaan Farzam kepadanya. Mata Karin berkaca-kaca. Perasaan bercampur aduk, rasa sakit akan pengkhianatan Anggi menggores lagi perasaannya.
"Kenapa kamu diam Karin. Kalau aku punya salah kepadamu, katakanlah. Agar aku tahu dan bisa memperbaikinya. Kamu tahu Karin, selama hidup aku tidak pernah jatuh cinta dan berharap pada wanita lain selain kamu." ucap Farzam menahan emosinya. Kali ini dia benar-benar kecewa dengan sikap Karin. Diamnya seolah menutup semua pintu harapan yang selama ini terbuka untuknya. Sementara itu Karin hanya mampu terdiam. Lidah ya benar-benar kaku. Ingin rasanya dia bertanya pada Farzam siapa Anggi baginya. Agar perasaan tenang. Tapi Karin seperti kehilangan kekuatan itu.

Setelah berdiri cukup lama menunggu jawaban Karin. Farzam pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Karin. Usaha yang dilakukannya seperti sia-sia. Jauh-jauh dia datang dari luar kota, tapi tak ada sedikit pun jawaban yang diterima.
"Maafkan aku Karin, mungkin aku yang sudah salah menilai perasaanmu. Aku yang terlalu berharap akan dirimu. Kalau begitu, aku pamit Karin. Aku akan langsung pulang ke kotaku." Kali ini suara Farzam terdengar lirih. Dilihatnya wajah Karin yang masih tertunduk. Farzam pun berusaha untuk tersenyum saat akan melangkah pergi. Dan Karin, kali ini dia bingung harus berbuat apa. Disatu sisi, dia senang melihat Farzam yang telah kembali untuk menemuimya, disisi lain, ada trauma yang kembali hadir dengan adanya Anggi.

Dihelanya napas dalam-dalam. Farzam membalikkan badannya. Dia harus pergi dari rumah Karin tanpa mendapatkan penjelasan apapun. Langkah kakinya pun perlahan meninggalkan Karin yang masih diam membisu.
"Bukankah kamu sudah punya Anggi. Lalu kenapa kamu bilang mencintaiku." Suara Karin tiba-tiba pecah. Farzam pun kaget mendengar kalimat yang muncul dari bibir Karin. Pertanyaan Karin ini sungguh mengagetkan Farzam.
"Anggi...Siapa Anggi?" tanya Farzam sembari membalikkan badannya kembali. Bibir Karin bergetar, air matanya perlahan menetes di pipinya.
"Bukankah kamu datang menemuiku bersama dengan Anggi. Wanita yang kamu panggil dengan panggilan sayang." jelas Karin. Air matanya makin deras mengalir. Kepedihan atas pengkhianatan Anggi seolah melukai hatinya kembali. Farzam pun terdiam. Dia kembali mengingat peristiwa di stasiun bulan lalu. Wanita cantik yang duduk di sampingnya saat di dalam kereta. Dia tidak mau mengenalkan namanya, dan dia meminta Farzam memanggilnya dengan nama Sayang. "Apakah itu yang dimaksud Karin?" batin Farzam. Dia pun lantas tersenyum. Kakinya mendekat ke arah Karin.

"Perempuan yang berlari memanggilku, saat aku berjalan mendekatimu? " tanya Farzam. Karin pun mengangguk pelan.
" Hehehe... Karin... Karin... Kenapa kamu tidak tanyakan dulu padaku waktu itu. Malah kamu pergi begitu saja dengan prasangkamu." Farzam pun kembali menarik napasnya dalam-dalam. Namun kali ini ada kelegaan di dalam hatinya.
"Aku baru mengenalnya di kereta Karin. Dia tak mau mengenalkan namanya. Dan dia maunya aku panggil dengan panggilan sayang. Karena menurutnya aku sangat mirip dengan kakaknya yang meninggal dunia karena kecelakaan. Dan dia ingin aku mengobati kerinduannya pada kakaknya itu." Senyum Farzam tampak tersungging di pipinya. Dia bahagia karena tahu apa yang selama ini mengganggu hubungannya dengan Karin hanya kesalah pahaman.

Mendengar jawaban Farzam, hati Karin pun begitu bahagia. Meski ada keraguan atas jawaban Farzam. Namun usaha Farzam untuk menemuinya kembali memberi kepercayaan pada Farzam.
"Benarkah apa yang kamu ceritakan Farzam? " tanya Karin penuh harap.
" Iya Karin. Aku hanya berempati pada wanita itu. Sedikit memberi kebahagiaan padanya hari itu rasanya tidak berdosa untukku." Farzam mencoba meyakinkan Karin. "Aku tetap pada perasaanku padamu Karin. Karena memang aku benar-benar jatuh cinta padamu.

Mendengar semuanya, Karin pun tampak luluh. Dia lantas mengijinkan Farzam untuk memasuki teras rumahnya. Karin kemudian menceritakan apa yang pernah terjadi sebelumnya antara dia dan Anggi. Dia menjelaskan alasan kenapa dia bereaksi begitu saat melihat Farzam bersama Anggi. Dan dengan keterbukaan Karin akan masa lalunya itu, membuat Farzam pun memahami sikap Karin padanya. Hanya saja Farzam berpesan pada Karin, agar kedepan, jika ada masalah apapun harus di bicarakan berdua. Agar tidak ada kesalahpahaman seperti hari ini.





DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Mantap...pa kabar Bu Yanisa

28 Nov
Balas

Alhamdulillah baik ibu cantik... Bunda Hasna... Hehehe... Lagi kangen sama gurusiana nih... Lama gak jumpa...

28 Nov
search