Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
PERNIKAHAN

PERNIKAHAN

Kedekatan Karin dan Farzam pun di mulai kembali. Komunikasi sudah tersambung lagi bahkan lebih intensif dari sebelumnya. Sejak Farzam menyatakan cintanya pada Karin, harapan Karin akan sosok Farzam menjadi lebih besar. Cintanya pada teman kecilnya itu, makin hari makin nyata. Ditambah lagi setiap akhir pekan, Farzam selalu menyempatkan untuk datang menemui Karin. Tentu saja hal ini begitu membuat hati Karin berbunga-bunga. Dia merasa menjadi wanita yang sangat di cintainya. Tak bisa dimungkinkan, Pelan-pelan kepedulian dan kasih sayang Farzam padanya telah mampu membuatnya lupa akan kepedihan yang pernah Rangga dan Anggi torehkan dihatinya. Meski terkadang kekhawatiran Karin akan godaan wanita lain muncul di benaknya.

"Kamu beneran sudah hapus nomor hp Anggi, Zam?" Tanya Karin sambil memasang wajah cemberut.
"Kan aku hapus nomor dia di depan kamu, bahkan nomornya juga langsung aku blokir. Kata kamu biar dia juga gak bisa hubungi aku lagi. " Farzam tersenyum manis melihat wajah Karin yang manyun. Kecemburuan Karin ini seolah ingin menunjukkan bahwa Karin benar-benar mencintai Farzam.
"Koq Diem sayang. Bener gak ucapanku tadi," tanya Farzam memastikan kesamaan pemikirannya dengan Karin. Karin pun tersipu malu mengingat kebodohannya. Dia tahu betul kalau Farzam sudah menghapus nomor Anggi di depan matanya, namun masih saja dia menanyakannya. Mereka pun tersenyum dan saling memandang. Mata mereka beradu, seolah-olah sama-sama berkata kalau aku mencintaimu. Mata memang tak pernah berbohong. Tampak begitu jelas jika rasa cinta diantara mereka semakin hari semakin besar dan nyata.

Sesaat mereka terdiam dalam kebisuan. Pikiran mereka sibuk dengan khayalan masing-masing. Karin yang membayangkan betapa bahagianya jika bisa menikah dengan Farzam dan merawat anak-anaknya. Sementara Farzam membayangkan indahnya hidup bersama dengan wanita yang sangat dicintainya itu.

"Kapan kita menikah Karin?" Tanya Farzam tiba-tiba. Tentu saja Karin kaget mendengar pertanyaan itu. Baru enam bulan mereka dekat, pertanyaan Farzam tentu diluar perkiraan Karin. Meskipun selama ini dia pun sebenarnya berharap hal yang sama, yaitu menikah dengan Farzam. Namun dia tak menyangka jika Farzam akan menanyakannya secepat ini. Karin yang tidak siap dengan jawaban hanya bisa mengernyitkan dahinya. Mencoba mencari kalimat yang pas untuk pertanyaan Farzam ini. Dia pun lantas tersenyum sambil perlahan mengatur irama jantungnya, yang tiba-tiba berdegup kencang tak teratur.
"Ahh... kenapa aku deg-degan, " batin Karin. Perasaannya tengah campur aduk, antara senang, tidak percaya dan bingung harus menjawab apa.

"Maaf Karin, kamu pasti kaget dengan pertanyaanku ini. Aku tahu mungkin kamu belum berpikir tentang pernikahan. Aku juga tahu kalau kamu belum yakin dengan cinta kita. Tapi aku sendiri sudah yakin dengan perasaanku padamu Karin. Dan akupun yakin dengan keinginanku untuk menikah denganmu." kata Farzam penuh dengan keseriusan. Karin pun makin kikuk dibuatnya. Karin mencoba untuk tersenyum lagi di depan Farzam. Jauh di dalam hatinya, dia pun sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama pada Farzam bahwa dia memiliki perasaan dan keinginan untuk menikah dengan teman kecilnya itu. Namun entah kenapa lidah Karin kaku dan tak mampu berucap.

"Sudahlah Karin. Kamu pikirkan dulu. Aku juga tak minta kamu menjawabnya sekarang. Bagiku yang penting kamu tahu bahwa aku serius dengan kamu. Ditambah lagi usia kita juga tak muda lagi. Rasanya kita sudah terlalu matang untuk sebuah pernikahan." ungkap Farzam.

"Iya Farzam. Aku akan segera memberikan jawaban padamu." Karin menjawab singkat dengan wajah memerah. Aneh memang, Karin merasa malu, tapi begitulah wanita. Sukanya malu-malu kucing saat ditanya tentang cinta dan pernikahan. Yang pasti, Karin yakin Farzam pun sudah tahu jawabannya. Bahwa dia pun mencintainya dan ingin menikah dengannya.

Keduanya pun sama-sama terdiam. Tangan mereka selebihnya disibukkan dengan memainkan sendok garpu diatas mangkuk bakso yang tengah mereka santap. Warung bakso ini pun ikut terdiam, seolah-olah menyadari bahwa saat ini dia ditunjuk menjadi saksi bisu akan lamaran Farzam pada kekasihnya.

*
Kedekatan Farzam dengan orang tua Karin sudah tidak di ragukan lagi. Bahkan ibunya Karin sudah lama menganggap Farzam sebagai anaknya sendiri. Begitupun dengan Karin. Dia pun cukup dekat dengan orang tua Farzam. Karena memang mereka sudah kenal Karin sejak dia masih kecil. Kedua keluarga mereka dulu sempat menjadi tetangga. Sampai akhirnya ketika Farzam SMA, mereka pindah ke luar kota. Dan sejak saat itu Karin harus terpisah dari Farzam. Karin masih ingat saat pertama kali Farzam mengajaknya ketemu dengan orang tuanya beberapa waktu yang lalu.
"Ini Karin mah. Tetangga kita dulu. Anaknya pak Koko dan bu Saidah." kata Farzam penuh semangat.
"Iya... Iya... Ibu masih ingat." Dilihatnya wajah Karin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meski agak risih, Karin tetap memberanikan diri mendekati mamahnya Farzam. Segera dia mengulurkan tangannya terlebih dahulu. Dan setelah mamahnya Farzam menyambut uluran tangannya, Karin pun segera menciumnya.
"Kamu makin cantik Karin, terlihat matang dan dewasa." Senyum wanita itu pun mengembang penuh ketulusan.
"Terima kasih tante," jawab Karin.
"Aduh, panggil mamah, jangan tante, iya jan Zam? Tanya mamah Farzam menggoda. Farzam pun tersenyum mendengar ucapan mamahnya barusan.
"Iya mah..," ucap Karin canggung. Meski begitu tak butuh waktu lama untuk Karin membiasakan memanggil mamahnya Farzam dengan panggilan mamah.

Tak hanya mamah Farzam yang menerima Karin dengan terbuka, bapak dan adiknya, Aisyah pun begitu ramah menerima Karin. Bahkan beberapa kali Karin sengaja pergi berdua dengan Aisyah, untuk sekedar membuang waktu bersama. Boleh dikatakan tak ada penolakan. Dua pihak keluarga tersebut menerima kedekatan Karin dan Farzam. Dan itu artinya mereka tak butuh perjuangan panjang untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Keadaan ini pun meyakinkan Farzam untuk segera melamar Karin.

Meski tak banyak rombongan yang Farzam bawa saat melamar Karin, tapi keakraban mereka membuat calon pengantin semakin yakin. Keluarga Karin begitu ramah menerima kedatangan keluarga Farzam. Lamaran pun di terima dengan ditandai pemberian cincin di jari manis Karin dari Farzam kekasihnya.

"Intinya, menjalani pernikahan itu tidak mudah Karin, Farzam. Suami istri itu harus saling memahami hak dan tanggung jawab masing-masing. Dan tentu saja setelah memahami suami istri harus bisa menjalankan apa yang menjadi kewajiban mereka dalam sebuah rumah tangga." Nasihat itu meluncur dari bibir wanita yang selama ini merawat Karin. Sementara itu Karin dan Farzam tampak mendengarkam nasihat ibu Karin dengan seksama.
"Iya bu, " jawab Karin dan Farzam bersamaan. Melihat keduanya serius mendengarkan, ibunya pun melanjutkan memberi nasihatnya.
"Setiap perjalanan dalam kehidupan rumah tangga pasti akan menemui masalah. Dan kalian berdua harus bisa menyelesaikan setiap permasalahan secara arif dan bijaksana. Kalian harus saling menghormati pasangan masing-masing, sehingga nantinya kalian akan sama-sama bisa menekan ego. Kalau sudah bisa menekan ego pasti solusinya akan dapat melupakan kedua belah pihak" Karin dan Farzam menganggukan kepalanya.
"Terakhir, pesan dari ibu, jangan pernah membiasakan emosi menguasai saat pertengkaran datang. Diam lah sejenak, masing-masing introspeksi, bersabar dan mohon petunjuk kepada Allah agar dicarikan jalan keluar. Inshaa Allah semua akan berakhir dengan baik," ibunya kemudian tersenyum. Prosesi lamaran selesai seiring berakhirnya nasihat seorang ibu kepada putri dan calon menantunya tadi. Sementara itu orang-orang yang hadir dalam acara lamaran tersebut masih terdiam. Mereka larut dalam mendengarkan nasihat tersebut sembari menganggukan kepala sebagai tanda menyetujui apa yang dipesankan ibu Karin itu.

*

Semua persiapan pernikahan sudah mencapai 75%. Tinggal masalah kecil seperti souvenir, dan hiburannya saja. Semua orang sibuk. Namun dibalik kesibukan yang ada, Karin tampak begitu bahagia, karena apa yang menjadi harapan untuk bisa menikah dengan Farzam akan segera terwujud. Dan tinggal menghitung minggu mereka akan mengikat tali pernikahan. Tak jauh berbeda dari apa yang dirasakan Karin, Farzam pun merasakan hal yang sama. Hati mereka berdua kini tengah berbunga-bunga, penuh senyum dan tawa.

Ibu dan bapak Karin pun tak kalah bahagia. Perjalanan penuh kepedihan telah berlalu bagi putrinya kini berganti dengan senyuman. Dan untuk menyambut kebahagiaan putrinya itu mereka berdua bermaksud menggelar pesta yang meriah. Bapak dan Ibu Karin sudah menyiapkan undangan untuk sekitar 4.000 orang. Melihat banyaknya tamu undangan yang akan hadir mereka pun berencana menggunakan gedung pernikahan saat melangsungkan resepsi pernikahan Karin dan Farzam.

*
Perjalanan hidup baru Karin di mulai. Hari ini menjadi hari yang penuh arti dalam hidup Karin. Prosesi ijab kobul yang berlangsung di masjid dekat rumahnya telah terlaksana dengan lancar dan hikmah. Begitupun dengan acara resepsi yang digelar. Dekorasi ruang yang penuh warna warni bunga, benar-benar menjadikan Karin dan Farzam bak raja dan ratu sehari. Cahaya lampu bertaburan memenuhi ruang. Hampir semua jenis makanan tampak tersajikan di banyak meja untuk tamu undangan. Tak hanya itu, kemeriahan pesta pernikahan Karin dan Farzam menjadi semakin lengkap dengan adanya alunan musik klasik yang dimainkan oleh grup orkestra.

Semua orang yang hadir tampak cantik dan ganteng dengan pakaian yang gemerlap penuh warna. Namun begitu, kecantikan Karin dan ketampanan Farzam kali ini tak ada yang bisa mengalahkannya. Mereka benar-benar menjadi pasangan yang sangat serasi. Sehingga wajar jika banyak tamu undangan yang berdecak kagum melihat mereka berdua. Bahkan banyak diantara mereka yang akhirnya mendoakan agar pernikahan Karin dan Farzam bahagia selamanya karena kekagumannya.

**
Akhirnya semua prosesi pernikahan selesai digelar.. Menjadi raja dan ratu sehari, benar-benar membuat Karin dan Farzam kelelahan. Mereka berdua pun lebih memilih untuk berada di kamar tidur seharian demi mengembalikan vitalitas tubuhnya. Dan tentu saja semua orang paham betapa lelahnya mereka berdua sehingga tak ada seorang pun yang berani mengganggu mereka saat berada di peraduannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

search