Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
PUPUS

PUPUS

Karin terdiam di sudut ruangan. Matanya kosong menatap dinding yang catnya mulai memudar. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa begitu kosong. Semua mimpi seolah pergi meninggalkannya sendiri. Mimpi menjadi istri Rangga, punya anak dari Rangga dan berbahagia bersama Rangga saat tua nanti.

Karin yang kemarin begitu cantik dan ceria, kini tampak lusuh dan pendiam. Tak ada lagi keceriaan menghias wajahnya. Dia pun berubah menjadi sosok wanita yang begitu lemah dan kehilangan kepercayaan diri. Perlahan namun pasti Karin sekarang telah menarik diri dari pergaulan. Dia tak ingin lagi punya teman, sahabat atau apapun Istilahnya. Pertemanan hanya membuat hatinya hancur berkeping-keping. Hanya ada kebahagiaan semu, karena akhir dari semua adalah kepedihan.

Matanya mulai berkaca-kaca. Karin benar-benar kecewa dengan kenyataan yang ada. Andai Karin tak mengenal Anggi mungkin sakit yang dirasakannya tak begitu dalam. Anggi yang selama ini Karin anggap sebagai teman dan sahabatnya telah tega mengkhianantinya. Dan Rangga, kekasih yang sangat dicintainya menjadi laki-laki paling kejam karena telah menduakan cintanya dengan sahabat Karin sendiri. Mereka berdua adalah orang yang selama ini begitu dekat dan Karin sayangi. Namun mereka justru begitu telah tega mengkhianantinya. Dalam waktu yang bersamaan Karin harus kehilangan dua orang yang begitu berarti dalam hidupnya. Dan kenyataan yang begitu pahit, harus Karin terima, tanpa ada penawaran. Hingga akhirnya Karin tak percaya lagi dengan sebuah persahabatan ataupun percintaan.

*

"Karin.... " suara lembut terdengar dari luar pintu kamar. Suara perempuan yang sudah melahirkan Karin itu terdengar bergetar menahan kepedihan . Tentu itu menjadi hal yang wajar, Ibu mana yang sanggup melihat anaknya begitu menderita karena dikhianati oleh orang-orang yang disayanginya. Mendengar suara ibunya itu, Karin terdiam. Dia hanya berusaha untuk menghapus air mata yang terlanjur menetes di pipinya yang lembut.

Sebentar terdengar pintu kamar Karin terbuka. Langkah kaki Ibunya pelan mendekati Karin yang masih sibuk mengusap air mata dipipinya. Melihat anaknya menangis, ibunya pun tak kuasa menahan air mata yang mengalir dari ujung mata.

"Sudahlah Karin...lupakan semua yang terjadi...ini sudah kehendak Allah... Dan yakinlah bahwa ini yang terbaik untukmu." Suara yang begitu lembut itu semakin membuat air mata Karin mengalir deras. Keduanya pun lantas berpelukan. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir mereka berdua. Hanya suara sesenggukan yang masih terdengar, sampai akhirnya keduanya memutuskan untuk shalat malam.

***

Satu tahun telah berlalu. Karin sudah mulai bangkit dari keterpurukannya. Kesabaran, kelembutan dan kasih sayang seorang ibu telah mampu mengembalikan kepercayaan diri dan harapan baru dalam diri Karin. Dia sudah mulai bisa tersenyum dan mulai bisa bersosialisasi lagi dengan orang lain. Karin pun mulai berpikir untuk melanjutkan aktivitasnya berkarir lagi. Karena memang sejak pengkhianatan itu, Karin memutuskan untuk resign dari pekerjaannya di sebuah bank swasta.

Sudah satu minggu lebih Karin melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Bapak dan ibunya pun ikut membantu mencarikan pekerjaan untuk anak kesayangannya itu. Mereka begitu bersemangat dan bahagia karena Karin sudah kembali seperti yang dulu.

"Minum dulu susunya Karin, "pintar ibunya sambil membereskan piring habis sarapan pagi.

" Iya, bu." jawab Karin. Dia pun segera meraih gelas berisi susu itu dan meminum ya.

*

Pagi ini Karin memang mendapatkan panggilan dari sebuah perusahaan terkenal untuk mulai bekerja sebagai tenaga administrasi di perusahaan tersebut. Itulah kenapa dia tampak begitu sibuk menyiapkan semuanya.

" Karin berangkat dulu Pak...bu, "pamit Karin sambil mencium tangan bapak dan ibunya.

" Hati-hati di jalan Karin." suara bapaknya terdengar begitu menenangkan, hingga memasuki relung hati Karin. Tangan kekarnya pun langsung mengusap lembut rambut putrinya itu. Tak bisa dimungkinkan, sosok laki-laki inilah, yang selama ini mampu menguatkan Karin untuk berani melangkah menghadapi kehidupan.

"Iya pak." Jawab Karin sambil tersenyum. Setelah bersamaan, Ibunya segera memberikan bekal makan siang yang sudah disiapkan untuk putri kesayangannya itu.

"Terima kasih bu." Senyum Karin benar-benar mengembang. Karin tampak begitu bahagia hari ini membayangkan bagaimana dia akan kembali berkarya lagi seperti dulu.

Karin pun segera berlalu meninggalkan bapak dan ibunya yang masih berdiri sambil menatap kepergiannya dengan senyum bahagia mereka. Karin pun berjalan menuju teras rumah. Tampak sepeda motor scoopy berwarna putih telah siap untuk mengantarkannya. Sepeda motor sexy yang tampak pas dengan body Karin yang langsing, ditambah helm berwarna Pink miliknya, seolah melengkapi kecantikan Karin hari ini.

***

Pekerjaan Karin selalu memuaskan atasannya, sehingga dalam waktu satu tahun Karin sudah naik jabatan menjadi kepala administrasi dikantornya. Hal yang tentu membawa kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri untuknya setelah perjalanan panjang menyembuhkan luka hati akibat pengkhianatan Rangga dan Anggi.

Tiga bulan belakangan ini, Karin tengah intens berkomunikasi dengan Farzam. Komunikasi mereka berdua tergolong intens. Bahkan minggu ini, Farzam bermaksud pulang kampung untuk bertemu Karin. Membayangkan bertemu dengan teman yang begitu dekat pada masa kecilnya itu, benar-benar membuat Karin bahagia. Kenangan masa kecil mereka pun kembali muncul dibayangkan Karin. Farzam kecil yang selalu siap membantu PR Karin. Farzam yang selalu membagi makanan bekalnya dengan Karin. Dan Farzam yang selalu menjaganya saat teman yang lain mengusili Karin.

Saat ini Farzam memang tinggal di kota lain. Sekarang dia sudah menjadi seorang dosen di sebuah Universitas ternama. Memang sejak dulu Farzam punya cita-cita menjadi seorang guru. Dan rupanya cita-citanya itu terkabul. Alhamdulillah, sebagai teman Karin hanya bisa mengucapkan rasa syukur kepada Allah, karena apa yang menjadi cita-cita temannya terwujud. Namun begitu, meski kesuksesan karir bisa diraihnya, tidak demikian dengan percintaannya.

Bahkan menurut ceritanya Farzam, dia tak pernah punya pacar selama ini. Hidupnya hanya untuk belajar dan belajar. Mungkin baru sekarang Farzam berniat mencari pendamping hidup. Tentu saja, hal ini terpaksa dia lakukan, karena ibunya yang terus menanyakan tentang pendamping hidup. Maklum usia Farzam sudah memasuki kepala 3.

Banyaknya cerita yang terungkap dari bibir mereka berdua, telah membuat rasa rindu muncul di benak mereka. Jika sehari saja Farzam tidak meneleponnya, Karin menjadi begitu gelisah. Karin seperti benar-benar merasakan jatuh cinta kembali. Dan Farzam pun seolah tahu apa yang dirasakan Karin, sehingga akhirnya Farzam pun berniat untuk menemui Karin. Dan kali ini, entah mengapa Karin punya harapan untuk bisa menjadi wanita yang Farzam cintai. Hatinya pun begitu berbunga-bunga saat tahu Farzam akan menemuinya.

Karin sudah mempersiapkan diri semaksimal mungkin untuk menyambut kedatangan Farzam. Dia melakukan perawatan intensif untuk kulit dan wajahnya satu minggu belakangan ini. Tentu saja Karin sudah tampak begitu cantik hari ini. Bajunya yang berwarna Pink, benar-benar menambah pesona yang dimiliki Karin. Dia tampak 5 tahun lebih muda dari usianya yang sekarang memasuki 30 tahun.

Di pandangannya jam tangan yang meningkar ditangannya. Sepuluh menit lagi kereta api dari kota Yogyakarta akan berhenti di stasiun tempatnya berdiri. Farzam meminta Karin untuk menjemputnya di stasiun ini. Dia pun meminta Karin untuk membawa mobil, karena dia akan datang bersama temannya. Karin pun mengabulkan permintaan teman kecilnya itu. Kebetulan memang hari ini Karin libur sehingga dia bisa pergi menjemput Farzam ke stasiun.

Kereta sudah berhenti didepan mata Karin. Dia pun mencari sosok Farzam yang sudah berpuluh tahun tak pernah bertemu. Sampai kemudian matanya berhenti pada sosok pria berjaket krem dan Barcelona jeans. Badannya tegap, tinggi besar. Kulitnya pun tampak putih bersih. Pria itu pun langsung tersenyum melihat Karin tengah berdiri menunggu nya. Sungguh Karin begitu terkagum dengan ketampanan Farzam. Pria itu benar-benar terlihat matang dan penuh wibawa.

Namun belum sempat Farzam dan Karin saling menyapa, tiba-tiba dari arah belakang Farzam muncul sosok wanita yang begitu di kenal oleh Karin.

"Mas, tunggu sebentar, kenapa terburu-buru, "teriak wanita cantik itu. Farzam pun langsung menoleh ke arah belakang. Ditungguinya wanita cantik yang tengah berjalan kearahnya.

" Iya sayang, " suara Farzam terdengar begitu lembut.

Sementara itu, jantung Karin berdetak begitu cepat. Nafas ya serasa sesak. Wanita cantik yang mendekati Farzam begitu dikenalnya.

" Anggi," batin Karin, kenapa dia bersama dengan Farzam? Apa dia kekasihnya? Lalu bagaimana dengan Rangga? Pertanyaan itu langsung berkecamuk di benak Karin.

Namun begitu Karin tak ingin menanyakan hal apapun tentang Anggi pada Farzam. Dia tak ingin tahu apapun tentang sahabat yang telah menyakitinya.

Karin pun langsung beranjak dari tempatnya berdiri. Dia harus pergi sebelum Farzam membalikkan badannya. Dia sudah tak mau bertemu lagi dengan Farzam. Karin pun segera mematikan handphonenya. Dia tak ingin Farzam menghubunginya lagi. Harapannya pupus begitu melihat Anggi bersamanya. Ya.... Anggi... Wanita cantik sahabatnya itu, yang telah tega mengkianatinya.

SELESAI....

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Keren Bu ,ceritanya menyentuh. Sedikit masukan ,resign bukan resent. Selamat hari guru. Salam kenal ,sehat dan sukses selalu

26 Nov
Balas

Terima kasih ibu, nanti saya edit

27 Nov

Sukses selalu.. Terima kasih ibu, nanti saya edit

27 Nov
search