Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Menjemput Fajar-10

Menjemput Fajar-10

Mendapatkan juragan seperti pak Budi sungguh suatu keberuntungan. Selain orangnya baik, pak Budi juga tak pernah marah dengan Kesalahan-kesalahan yang dilakukan Ali. Ali pun betah kerja di sana. Tiga tahun lebih Ali mengabdikan dirinya pada keluarga pak Budi. Setiap lebaran pak Budi selalu menitipkan oleh-oleh untuk Emak dan adiknya.

Ali benar-benar sudah nyaman dengan kehidupannya sekarang ini. Dia pun sudah akrab dengan orang-orang yang tinggal di sekitar rumah pak Budi. Bahkan Ali menjadi anggota klub sepak bola di kompleks tersebut. Istri dan anak pak Budi pun sangat menyukai Ali. Baju-baju bekas anak laki-lakinya sering kali diberikan untuk Ali.

Hari ini Ali bekerja seperti biasanya. Bangun jam empat dan selesai sekitar jam sembilan pagi. Hanya saja hari ini jatah Ali untuk membersihkan sangkar burung kesayangan pak budi yang harganya setara dengan gaji Ali selama satu tahun.

Dengan hati-hati Ali membuka pintu kandang itu. Namun entah bagaimana caranya tiba-tiba burung itu terlepas dari sangkarnya. Ali pun kaget. Dia segera berdiri dan berusaha untuk menangkap burung tadi. Beruntung burung tadi tidak terbang tinggi. Burung itu tampak bertengger di atas kursi depan kamar Ali. Pelan-pelan Ali mendekatinya. Dia tak ingin burung itu terbang menjauh darinya. Dan... hap... Ali menubruk burung mahal juragannya itu. Namun sayang burung yang kaget itu justru terbang lebih tinggi.

Ali fokus mengikuti gerakan burung mahal itu terbang. Kali ini burung juragannya bertengger di pagar keliling. Tak mau membuang waktu, Ali segera mendekatinya. Melihat gerakan Ali, burung itu menjadi takut. Burung itupun terbang kembali. Burung juragannya yang mahal itu sudah terbang tinggi entah ke mana. Menyadari burungnya itu tak akan kembali, tubuh Ali lemas. Bagaimana tidak. Burung yang lepas itu kesayangan juragannya. Hampir setiap hari Ali diingatkan untuk hati-hati menjaganya.

Ali tidak nafsu makan lagi. Ditunggunya juragannya itu pulang dari tempat kerjanya. Ali sudah pasrah jika harus dipecat dari pekerjaannya atau di suruh menggantinya. Dan benar saja. Ini pertama kalinya Ali melihat juragannya marah padanya.
Ali hanya bisa diam mendengarkan omelan-omelan juragannya itu.
"Pokoknya Li kamu harus bisa mendapatkan burung itu kembali." Suara pak Budi dengan nada tinggi. Sama sekali tak ada bantahan keluar dari mulut Ali. Meskipun dalam hatinya rasanya tak mungkin dia mendapatkan burung itu kembali.
***

Semalaman Ali tak bisa tidur. Dia benar-benar merasa bersalah karena telah menghilangkan burung kesayangan juragannya. Dia sudah mengecewakan juragan yang selama ini sangat baik kepadanya. Sementara itu Pak Budi tampak berdiri dekat kandang burung kesayangannya. Pak Budi begitu sedih karena kehilangan burung kesayangannya. Selama beberapa hari, suasana di rumah itu menjadi tidak nyaman. Pak Budi terlihat murung. Sementara Ali sendiri tak berani untuk menegur juragannya itu dengan keadaan itu.

Seminggu sudah burung pak Budi hilang. Sore ini Ali dipanggil pak Budi untuk menghadapnya. Pak Budi tampak sudah ikhlas menerima kenyataan.
"Begini Li. Bapak minta maaf beberapa hari ini sudah membuat kamu tidak nyaman. Jujur saja bapak kecewa karena kamu teledor sampai burung kesayanganku itu hilang.", Sejenak pak Budi berhenti bicara. Ali tertunduk. Dia tak berani menatap wajah pak Budi.
"Kamu tahu sendiri harga burung itu sama dengan gaji kamu selama satu tahun. Kalau kamu jadi bapak apa yang akan kamu lakukan?" Tanya pak Budi bijak.
"Saya akan menggantinya pak."Jawab Ali lirih. Bagaimanapun ini memang salahnya. Sekalipun Ali tak tahu dari mana dia akan mendapatkan uang untuk mengganti burung juragannya.
"Terus kamu dapat uang dari mana? " Tanya pak Budi sambil menatap Ali yang masih saja tertunduk. Kali ini Ali tak bisa menjawab pertanyaan pak Budi.
"Gimana, Li? " Tanya pak Budi kembali.
"Gak tahu pak." Jawab Ali lirih.
"Kamu mau kalau potong gaji." Pak Budi berusaha menawarkan jalan keluar. Mendengar tawaran itu Ali langsung mengiyakan.
"Iya pak. gak papa. Bapak boleh potong gaji saya selama setahun." Mendengar jawaban Ali pak Budi tersenyum. Bagaimanapun kesalahan Ali, pak Budi tetap menghargai kerja Ali selama ini.
"Ya sudah kalau memang itu menjadi keputusanmu. Kamu cukup menggantinya dengan enam bulan gajimu saja. Gimana, Li?" Tanya juragannya sekali lagi untuk memastikan kesediaan Ali.
"Terima kasih pak. saya sanggup dengan pemotongan gaji saya selama enam bulan." Jawab Ali tegas.

Setelah pembicaraan selesai, Ali langsung masuk ke kamar. Dalam benaknya yang terpikir adalah bagaimana nasib emaknya selama enam bulan ke depan. Mata Ali berkaca-kaca. Terbayang wajah Emaknya yang kebingungan mencari hutangan untuk menutupi kebutuhan hidupnya. Ini memang salahnya. Dan Ali harus mempertanggungjawabkannya.



DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Owalaa...gara-gara burung Pak Budi yang hilang, emak gak dapat kiriman...hik...hik..hik. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

18 Mar
Balas

udah garis nasib bunda...gimana lagi.. sukses selalu bunda dan barakallah

18 Mar

Kasihan si Ali, dan pusing dengan 6 bulan ke depan. Sukses selalu dan barakallah fiik

17 Mar
Balas

semangat bun... sukses selalu dan barakallah

17 Mar
search