Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Menjemput Fajar-11

Menjemput Fajar-11

Enam bulan Ali kerja tanpa di beri gaji. Selesai sudah tanggung jawab Ali untuk mengembalikan hutang pada pak Budi. Saat ini Ali benar-benar kangen dengan Emak dan Adiknya. Dia ingin tahu bagaimana keadaan mereka selama enam bulan ini. Meski Ali mendengar bahwa beberapa kali bapaknya mengirim uang untuk mereka, tetap saja perasaan khawatir muncul di benaknya. Ada rasa bersalah karena telah menelantarkan emak dan adiknya yang kerap menghinggapi perasaannya saat ini.

Malam ini Ali beranikan diri untuk menemui pak Budi. Ia ingin pamit pulang menemui emaknya di kampung. Alhamdulillah ada tabungan yang Ali peroleh dari istrinya pak Budi. Selama enam bulan ini Ali kerap disuruh belanja di warung. Jika ada uang sisa biasanya diberikan kepadanya.

"Pak Budi, Alhamdulillah hutang saya ke bapak sudah lunas tepat hari ini. Rencananya besok saya mau ijin pulang kampung pak. Saya kangen dengan Emak dan Adik saya." Pamit Ali pada Juragannya itu. Pak Budi tampak memahami apa yang Ali rasakan.

"Terus kalau kamu sudah pulang kampung, apa kamu akan kembali kerja lagi di sini Li?" Tanya pak Budi.

"Saya mau nyusul bapak saya ke Sumatera pak. Kerja di kebun kopi." Ali menjawab pertanyaan pak Budi dengan berat hati. Pak Budi menghela napas panjang. Ada penyesalan karena harus kehilangan Ali yang telah bekerja dengan baik selama ini. Tapi pak Budi pun tak punya hak untuk mencegah keinginan Ali.

"Baiklah, Li. Besok bapak antar kamu ke terminal bus ya." Ucap pak budi.

"Ali minta maaf ya pak, jika selama ini telah merepotkan dan mengecewakan bapak." Mata Ali berkaca-kaca. Sungguh berat meninggalkan juragan yang sebenarnya baik kepadanya. Kalau pun kemarin dia tidak mendapatkan gaji selama enam bulan, itu karena kesalahannya. Tapi bayangan emak yang hidup kekurangan memaksanya untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih besar. Beberapa kali bertemu dengan kakaknya, Ali mendapatkan masukkan agar ikut kerja dengan bapaknya di Lampung. Hasilnya lumayan. Bapak sudah bisa mengirim uang untuk emak dan adiknya di kampung.

"Bapak juga meminta maaf, Li. Kalau sudah membuat kamu kecewa karena memotong uang gaji kamu. Besok bapak kasih kamu uang separoh gaji sebagai tanda terima kasih bapak atas pengabdianmu selama ini." Mata pak Budi pun tampak berkaca-kaca. Sementara istri pak Budi yang duduk di samping suaminya ikut menangis.

"Ibu juga minta maaf ya, Li." Ucap istri pak Budi tanpa bisa meneruskan kalimatnya.

Malam itu menjadi malam terakhir bagi Ali berada di rumah juragannya. Ali tak bisa tidur. Ada rasa berat meninggalkan keluarga ini. Tapi keinginan untuk memperbaiki ekonomi keluarga memaksanya untuk mencari pekerjaan yang lebih menghasilkan.

Esok paginya Ali pun meninggalkan rumah dan kenangannya selama hampir empat tahun. Ali tak bisa menahan air matanya. Perpisahan dengan juragannya benar-benar membawa kesan yang mendalam di hati Ali.

***

Begitu sampai di rumahnya, Ali langsung mencari emaknya. Tak ada orang di rumah. Adiknya pun tak ada. Ali bertanya pada tetangga. Kata mereka emaknya sekarang sedang kerja tandur di sawah. Sedang adiknya sedang main bersama teman-temannya. Mendengar penjelasan itu Ali memilih untuk masuk ke dalam rumah dan istirahat. Ia masuk ke dalam kamarnya. Semua perabot tertata rapi. Tak ada lagi kasur tipis yang menemaninya tidur saat kecil dulu. Emak sudah membeli kasur yang empuk hasil kerja dari Ali selama tiga tahun kemarin. Atap rumah pun sudah tidak bocor lagi. Lantai rumah yang dulu tanah sudah berubah jadi ubin. Tempbok gedek yang dulu penuh lubang untuk keluar masuk tikus, separohnya kini sudah jadi tembok. Huft...Ali menarik napas dalam-dalam. Melihat hasil kerja kerasnya selama tiga tahun ada bekasnya membuat Ali sedikit bahagia. Karena saat Ali mengingat enam bulan kerja tanpa gaji, akan membuat hatinya sedikit kecewa dan terluka.

Ali kembali menatap langit-langit rumahnya. Rumah yang banyak meninggalkan kenangan di masa kecilnya. Masa di mana Ali harus bertarung dengan ganasnya malam demi sesuap nasi. Masa dimana ia kehilangan harapannya untuk mendapatkan ijazah sekolah dasar seperti teman-temannya. Masa dimana dia harus mencari rumput untuk kambing pak Darso. Dan masa dimana Ali harus menjadi kuli bangunan demi membiayai ongkos sunat dirinya.

***

Hari sudah sore saat terdengar suara Emak memanggil namanya.

"Li, kamu pulang nang."Teriak Emak jauh di depan pintu. Mendengar teriakan emak yang cukup keras, Ali pun terbangun. Ali langsung duduk dan segera turun dari tempat tidurnya. Disambutnya Emak yang sudah sampai di dalam kamarnya. Tangis emak pecah begitu melihat anaknya. Emak begitu sedih saat mendengar berita Ali harus kerja selama enam bulan tanpa di gaji. Bayangan Ali tidak bisa makan membuat Emak sering sakit-sakitan. Di peluknya Ali yang sedari tadi menatap tubuh kurus emaknya. Mata Ali mulai berlinang air mata. Ada duka terselip melihat emaknya terlihat kurus dan letih.

"Emak sakit ya?" Tanya Ali sambil menahan tangisnya.

"Emak tidak sakit, Li. Hanya kepikiran kamu di Jakarta katanya kerja tapi tidak di gaji. Mak khawatir kamu kekurangan makan dan jatuh sakit."Jawab emak sambil terisak.

"Ali baik-baik saja Mak. Ali justru kepikiran dari mana Emak dapat uang untuk makan." Ucap Ali sambil menatap wajah emaknya.

"Alhamdulillah, Li. Beberapa bulan yang lalu bapakmu pulang. Sekarang bapak punya kebun kopi di Sumatra. Rupanya selama ini hasil kerja bapakmu di tabung untuk membeli tanah di sana. Itu kenapa bapak tak pernah mengirim uang." Jelas Emaknya penuh semangat.

"Syukurlah Mak." Jawab Ali singkat. Ada secercah bahagia mendengar bapaknya sukses berkebun di Sumatera.

"Ali sudah keluar kerja Mak. Kemungkinan Ali akan nyusul bapak ke Sumatera." Ali menjelaskan rencananya pada Emaknya.

"Ya sudah. Kamu istirahat saja dulu selama beberapa waktu. Kalau kamu rasa sudah cukup istirahatnya kamu boleh menyusul bapakmu." Ali menganggukkan kepalanya.

"Ya sudah, Emak mau masak dulu makanan kesukaan kamu ya. Nanti kita makan bareng Ridwan." Ucap Emak sambil berlalu meninggalkan kamar Ali menuju ke dapurnya.

Hari itu Ali seperti kembali menemukan apa yang hilang selama hampir empat tahun ini. Kebahagiaan berkumpul bersama Emak dan Adiknya seolah menjadi obat lelahnya berjuang di negeri orang.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Alhamdulillah, semoga derita Ali akan benar-benar berakhir. Awas lhoo, Bunda Yanida kalau macem-macem lagi buat nasib si Ali...hehehe. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

18 Mar
Balas

Alhamdulillah, semoga derita Ali akan benar-benar berakhir. Awas lhoo, Bunda Yanida kalau macem-macem lagi buat nasib si Ali...hehehe. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

18 Mar
Balas

hihihi... kalau langsung bahagia kurang seru ceritanya... Terima kasih sudah berkenan membaca sukses selalu bunda

18 Mar

Alhamdulillah, ada bahagia untuk Ali, seorang anak yang mencintai orang tua dan adiknya. Sukses selalu dan barakallah fiik

18 Mar
Balas

alhamdulillah bunda... sukses selalu bunda

18 Mar

Makin asyik bacanya. Lanjut....

18 Mar
Balas

semangat... pak Mardi

18 Mar
search