Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Menjemput Fajar-12

Menjemput Fajar-12

Tinggal di kampung halaman selama beberapa hari benar-benar digunakan oleh Ali untuk bersilaturahmi. Ali datang ke satu rumah kemudian pindah lagi ke rumah yang lain. Pokoknya Ali cukup menyiapkan perut yang kosong kalau mau ngendong ke tetangga. Maklum setiap berkunjung, ada saja suguhan yang sengaja disiapkan si empunya rumah. Dan asyiknya, suguhan itu harus di cicipi oleh tamunya. Kalau tamunya sampai tak menyentuh makanannya, mereka akan tersinggung dan menganggap tamunya itu tidak menghargai yang punya rumah.

Beberapa tahun jauh dari kampung halaman, membuat banyak orang ingin tahu tentang kehidupan Ali selama ini.

Banyak pujian yang di lontarkan tetangga dengan kondisi fisik Ali saat ini.

" Kamu makin ganteng ya, Li. Kulit kamu bersih. perawakan tinggi, berat badan ideal. Pokoknya enak kalau dilihat." Yu Tinah yang masih istiqomah berjualan itu memberikan komentarnya.

"Hehehe, bisa saja yu Tinah." Balas Ali dengan tak lupa memberikan tawa renyahnya. Usia Ali yang saat ini baru masuk delapan belas tahun memang boleh dikatakan masih remaja. Usia dimana orang sering menyebutnya sebagai daun muda. Segar dan enak di mata.

Tidak hanya emak-emak yang memperhatikan Ali. Beberapa remaja desa tampak mencari perhatian Ali untuk bisa dekat dengannya. Melihat hal itu Ali hanya tersenyum. Ada rasa bangga namun juga Ali anggap itu sebagai hal biasa saja. Tak ada niat sedikit pun dari Ali untuk mendekati perempuan saat ini. Dia hanya ingin fokus membangun ekonomi keluarganya agar lebih mapan. Meski pun demikian Ali tetap ramah pada mereka. Dan ini membuat remaja desa itu makin kesengsem dan penasaran.

***

Ada banyak cerita di kampung Ali yang bisa di dengarnya sepanjang Ali bersilaturahmi ke rumah tetangga-tetangganya. Mulai dari cerita tentang perceraian, pernikahan, pencurian, kesuksesan dan perilaku buruk yang di miliki oleh tetangganya. Termasuk kabar lik Madi, teman mancingnya dulu menjadi salah satu yang didengarnya. Alhamdulillah, menurut cerita tetangga lik Madi sekarang hidupnya sudah lumayan. Rumahnya sudah bagus, dan anak pertamanya sudah bekerja. Sama seperti Ali, Saat ini lik Madi juga merantau ke Jakarta. Hanya saja lik Madi fokus di bangunan. Itu berarti penjaring ikan di desanya sudah berkurang jumlahnya.

***

Pagi ini Ali kangen dengan jaringnya. Rencananya nanti malam dia mau mancing ke sungai. Dia ingin mengenang kembali masa kecilnya. Namun saat dia menemukan jaringnya di belakang rumah, tampak ada banyak lubang yang cukup besar terpajang di sana. Melihat hal itu, Ali bergegas ke pasar untuk membeli jarum dan benang. Dibenahinya jaring peninggalan bapaknya itu. Setelah selesai, Ali kembali menaruhnya di belakang rumah untuk dipakai nanti malam.

Malam harinya, Ali berangkat njaring. Suasana sungai begitu sepi. Hanya ada beberapa orang saja, itu pun orang dari kampung sebelah. Sejak kematian kang Asep yang tenggelam di daerah sekitar kedung, banyak orang yang ketakutan. Mereka tak berani lagi njaring di sungai. Konon ceritanya kang Asep suka muncul untuk menemani orang-orang njaring dan mengusilinya.

"Bismillah" Doa Ali dalam hati. Ali mulai melemparkan jaringnya ke tepi sungai. Dingin malam begitu tajam menusuk tulang Ali. Maklum selama kerja di Jakarta Ali jarang sekali begadang, sehingga tak bersentuhan dengan angin malam.

Suasana sungai yang hening, ditambah suara hewan-hewan malam membuat bulu kuduk Ali merinding. Ada sedikit rasa takut menghinggapi perasaannya. Namun segera di tepisnya semua rasa takutnya itu. Dia yakinkan hatinya bahwa dia adalah seorang pria yang pemberani. Sendirian menjaring ikan di sungai membuat Ali tak mau berlama-lama. Ada sekitar satu setengah jam Ali melempar jaringnya. Malam belum begitu larut, namun Ali merasa sudah cukup bernostalgia dengan masa kecilnya. Ali pun kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah. Alhamdulillah. Ikan hasil tangkapannya lumayan, cukup untuk lauk sarapan besok pagi. Emak lah yang akan membersihkan dan menggoreng ikan itu untuk mereka.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Tunggu deh, Bunda. Saya baca yang sebelum ini dulu. Maaf ketinggalan. Sibuk acara ngunduh, ditambah lagi si mantu sakit pula. Alhamdulillah, semuanya sudah selesai. Gak seru ah kalau gak baca yang sebelumnya. Nanti kalau dah baca episode sebelumnya, boleh komen lagi di sini, nggih? Barakallah, Bunda Yanisa.

18 Mar
Balas

Hehehe... Terima kasih bunda sudah mau membaca tulisan saya ditengah kesibukan bunda... Alhamdulillah semua sudah terselesaikan... ditunggu komen nya... sukses selalu bunda

18 Mar

Semoga njaring hanya tinggal nostalgia. Sekarang, tugas Bunda njawab setiap komen saya di Menjemput Fajar 4-11...hihihi. Barakallah.

18 Mar
Balas

Tentu bunda... jangan khawatir... merupakan sebuah sanjungan bunda mau baca tulisan saya... sukses selalu bunda dan barakallah

18 Mar

Suasana desa tempat tinggal Ali asyik dan menyenangkan. Salam sehat penuh barakah.

20 Mar
Balas

Main pak Mardi... mancing di sungai.. sukses selalu

20 Mar
search