Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Menjemput Fajar-13

Menjemput Fajar-13

Dua minggu sudah Ali berkumpul bersama keluarga di kampung halamannya. Rasa kangen yang selama ini mengganggu hatinya telah terobati. Ali harus kembali fokus pada tujuan hidupnya, yakni membangun ekonomi keluarganya. Mencari kerja dengan penghasilan yang besar.

Seperti rencana awal, dia akan kembali merantau ke negeri orang. Cerita tentang hasil panen berlimpah saat harga pasar kopi yang tinggi, membuat Ali ingin mencoba menekuninya. Ali pun membulatkan tekadnya untuk pergi ke pulau di seberang lautan tempat bapaknya berjuang sekarang yakni pulau Sumatra.

"Ali berangkat dulu ya Mak. Jangan lupa untuk selalu mendoakan Ali supaya sukses. Bisa membawa uang yang banyak, ya, Mak." Pamit Ali sembari mencium tangan emaknya.

Emak kembali menangis. Baru sebentar rasanya berkumpul dengan anak kesayangannya. Sekarang harus berpisah lagi. Di elusnya kepala Ali dengan penuh kasih sayang.

"Iya, Li doa ibu untuk kesuksesanmu. Kamu yang sabar ya. Hati-hati di jalan." Pesan Emak sambil menangis.

"Mas berangkat dulu ya Wan. Jaga Emak. Sekolah yang pintar. "Ali memeluk adiknya itu.

"Iya Mas. Besok kalau Mas pulang lagi, Ridwan belikan sepatu ya." Ucap Adiknya lugu. Mendengar permintaan adiknya itu Ali pun tersenyum.

"Iya. Mas belikan sepatu sama baju. Doakan Mas ya."

" Yeee... asyik... dadah Mas Ali." Senyum Ali mengembang. Betapa dia melihat adiknya penuh harap kepadanya. Dalam hati Ali berjanji akan membahagiakan Emak dan adiknya nanti.

***

Sebelum ke Sumatra, Ali akan menemui kakaknya dulu di Jakarta. Dia lah yang akan mengantarkan Ali sampai ke perkebunan bapaknya. Tanpa Ali tahu, ternyata Mas Rahmat sudah beberapa kali kerja membantu bapak di kebun. Biasanya mas Rahmat hanya membantu bapak pada saat panen. Berhubung sekarang masih perawatan kebun, maka kakaknya memilih kerja di Jalarta sebagai kuli bangunan. Alasannya kakaknya kalau sekarang kerja di kebun, maka tak ada uang yang masuk ke kantonnya. Padahal dia harus mengumpulkan uang untuk biaya pernikahan di akhir tahun ini. belum ada hasilnya.

Perjalanan panjang Ali jalani malam ini. Berangkat dari Purbalingga jam 5 sore menggunakan bus sinar jaya. Ali akan berhenti di terminal lebak bulus. Dengan menaiki armada bus kembali, Ali menuju ke pelabuhan Merak. Disanalah nanti kakaknya Rahmat menunggunya di pos keamanan.

Begitu turun dari bus, tampak kakaknya sudah berdiri menunggunya. Ada beberapa kardus tergeletak di samping kakaknya. Menurut kakaknya dia membawa sembako untuk bekal hidup di kebun nanti, karena jarak tempuh ke pasar sangat jauh. Setelah bertemu kakaknya, keduanya langsung menaiki kapal fery untuk menyebrangi lautan yang nantinya akan berlabuh di pelabuhan Bakaheuni.

Perut Ali benar-benar lapar ketika sampai di pelabuhan Bakaheuni. Mereka pun akhirnya menyempatkan diri untuk makan di warung makan di sekitar pelabuhan. Begitu selesai makan mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kota Lampung. Kota dimana kebun bapaknya berada.

Ali dan Rahmat turun dari bus. Tampak terbentang luas tanaman kopi disekelilingnya. Aroma semerbak wangi bunga kopi menusuk hidung Ali. Di hirupnya napas dalam-dalam, demi memberi kesegaran pada paru-parunya yang sedari kemarin berbaur dengan asap kendaraan bermotor.

"Disini Mas kebun kopinya." Tanya Ali sambil menatap hamparan kebun yang ada di depan matanya.

"Hehehe, ini kebun orang, Li. Punya bapak kita masih masuk ke dalam sana. Butuh waktu sekitar 4 jam dari sini untuk sampai ke rumah panggung bapak." Jelas Rahmat. Mendengar kata berjalan dua jam, sudah membuat lutut Ali terasa linu. Tapi semangat untuk membahagiakan keluarganya memberikan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Lelah yang teramat sangat benar-benar Ali rasakan. Duduk diatas bus sehari semalaman ditambah jalan kaki selama kurang lebih 4 jam membuatnya kehabisan energi. Tampak dari jauh sebuah rumah panggung yang ukurannya kecil sekitar 3 x 4 meter. Disebelahnya ada gubug yang biasanya digunakan untuk masak.

"Nah itu gubug tempat bapak dan aku istirahat di malam hari." Rahmat menunjuk sebuah rumah panggung yang ada di depan dengan jarak sekitar 500 meter.

"Oohhh... sendirian Mas?" Tanya Ali saat tak dilihatnya bangunan lain disekitarnya.

"Iya." Mereka terus melangkahkan kaki menuju rumah panggung tersebut.

Begitu sampai di gubuk bapaknya, Ali segera merebahkan tubuhnya. Bapaknya belum pulang dari kebun. Rahmat sendiri langsung memasak mie rebus yang sengaja dia bawa dari Jakarta. Ali hanya meminum segelas air untuk menghilangkan dahaga.

"Makan Li." Teriak Rahmat dari dapur bawah.

"Iya." Ali segera turun untuk makan. Ali tampak begitu lahap menikmati mie rebus yang di beri sayur sawi. Begitu selesai, keduanya naik kembali. Beberapa menit kemudian Ali pun terlelap bersama kakaknya.

***

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan

Komentar

Semoga berkumpulnya Ali dengan Rahmat dan Bapaknya akan membawa kebahagiaan bagi keluarga Ali. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Yanisa.

18 Mar
Balas

Aamiin... Semoga ya bun.. sukses selalu bunda dan barakallah

18 Mar

Perjuangan baru dimulai yah Bund. Sukses selalu dan barakallah fiik

18 Mar
Balas

betul bunda vivi. perjalanan masih panjang. riak kehidupan masih harus dihadapi Ali. sukses selalu bunda dan barakallah

18 Mar

Semoga cita-cita Ali tercapai untuk membahagiakan emaknya...Sukses Bu Yanisa...

18 Mar
Balas

Aamiin bunda... inshaa Allah.. sukses selalu bunda dan barakallah

18 Mar

Titik sukses dari kerja keras mulai terlihat, semoga happy ending. Mantap bunda Yanisa.

20 Mar
Balas

inshaa Allah.... nanti tak bikin happy ending dulu... hehehe... sukses selalu dan barakallah

20 Mar
search