Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Berita Kematian-2

Berita Kematian-2

Mempunyai satu istri dan tiga orang anak yang harus dibiayai, membuat Darto harus kerja keras banting tulang pagi siang malam. Sudah banyak pekerjaan dia lakoni demi mendapatkan uang. Namun hasilnya masih saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Seringkali Darto mencari uang tambahan dari kerja apa saja.

Beberapa waktu yang lalu Darto bersama istrinya, mencoba merintis usaha mie ayam. Alhamdulillah hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan hidup ketiga anaknya. Namun karena tempat untuk jualan bukan miliknya, maka Darto harus membayar uang sewanya. Hal inilah yang agak memberatkan bagi usaha Darto. Kalau pun Darto bisa nabung, uang yang terkumpul akan dipakai untuk bayar sewa. Keadaan mulai berubah, warung mie ayam Darto semakin ke sini semakin sepi. Ini karena banyak pedagang-pedagang baru bermunculan. Setelah mencoba bertahan akhirnya usaha Darto gulung tikar.

Darto pun beralih profesi menjadi sales alat-alat rumah tangga, seperti setrika baju dan alasnya, panci, kompor dan sebagainya. Lumayan hasilnya, meski Darto harus bekerja ekstra untuk memasarkan barang dagangannya. Kadang untuk promo produk Darto menjalankannya malam hari, mengikuti jadwal ibu-ibu yang menjadi target sebagai pembeli. Belum lagi kalau turun hujan. Darto yang memakai sepeda motor harus menunggu sampai hujan reda baru bisa beraktivitas. Maklum, takut barang dagangannya kena air hujan, bisa-bisa malah rusak.

"Pak, itu Rina minta uang untuk bayar buku sekolah. Katanya tinggal dia yang belum bayar." Istri Darto membuka pembicaraan saat mereka duduk santai di teras rumah setelah lelah bekerja.

"Berapa bu, itu ada uang cuma 50 ribu. Tapi itu untuk belanja besok pagi. " Jelas Darto pada istrinya.

"Alhamdulillah. Katanya 25 ribu pak. Besok kita makan apa adanya saja. Yang penting anak kita tidak malu sama teman-temannya." Istri Darto menyodorkan mendoan hangat untuk cemilan suaminya.

"Ini pak mendoannya." Darto langsung mengambil mendoan hangat yang sudah di beli istrinya dari warung depan rumah.

Usaha Darto memang tidak stabil. Kadang laris kadang sepi. Hal ini membuat kondisi keuangan menjadi goncang. Istri Darto sering ngambek karena tak setiap hari Darto bisa memberinya uang. Tentu saja Darto harus memutar otak bagaimana caranya agar keuangan keluarga menjadi lebih baik lagi.

"Kita usaha apa ya bu. Kebutuhan anak-anak makin banyak. belum sekarang bayaran listrik dan ledeng ikut naik." Tanya Darto dengan dahi berkerut, seakan-akan Darto sedang berfikir keras mencari solusi untuk memperbaiki ekonominya.

"Pak, bagaimana kalau kita buka laundry. Lumayan hasilnya. sudah aku hitung-hitung hasilnya." Istri Darto pun menjelaskan keuntungan dari usaha loundry pada suaminya.

Darto pun merintis usaha loundry. Istrinya bertugas untum mencuci dan menyetrika. sementara untuk mengambil cucian dan mengantar cucian Darto lah yang melakukan. Namun begitu seringkali Darto membantu istrinya jika sedang banyak cucian. Usaha mulai menunjukkan hasilnya. Pelanggan mulai bertambah, namun tenaga tak mensuport. Rencananya Darto mau mengambil tenaga dari orang lain. Namun keuangan belum cukup untuk membayari orang lain. Maklum loundry dari Darto harganya lebih murah dari loundry yang sudah ada. Ini dimaksudkan untuk menarik pelanggan. Giliran mau menaikkan harga, pelanggan lama pindah pada yang baru.

Darto sudah kehabisan akal. Usaha yang dilakukan selalu gagal. Selama hampir sebulan Darto nganggur. Uang di tabungan sudah mulai menipis. Beruntung kemudian dia bertemu dengan temannya, yang sukses berjualan leker. Makanan ringan untuk cemilan. Modalnya tidak begitu banyak, dan hasilnya lumayan. Darto pun kemudian memulai usaha Berjualan leker. Istrinya pun berusaha untuk membantu suaminya mencari nafkah dengan berjualan leker di sekolah anaknya. Sedangkan suaminya memilih berjualan di alun-alun.

Ekonomi Darto mulai membaik sejak dia berjualan leker. Hutang-hutang di warung sudah ditutup semua. Darto pun sudah mulai bisa menabung. Uang sekolah anaknya pun sudah beres semua. Melihat keadaan ekonomi keluarga yang semakin membaik, Darto lebih semangat lagi dalam bekerja. Mulai dari pagi, Darto keliling ke sekolah-sekolah. Siangnya dia pulang sebentar untuk makan siang dan istirahat. Selepas Ashar, dia kembali berkeliling untuk berjualan lagi di alun-alun.

Selama ini Darto sendiri merupakan sosok yang pendiam, tak banyak mengeluh, bertanggung jawab pada keluarga dan taat dalam menjalankan ibadah agama. Dia selalu mengupayakan bisa menjalani shalat secara berjamaah di masjid. Seperti sore

itu Darto pun bermaksud untuk menjalankan shalat Ashar di masjid. Jam baru menunjukkan pukul 15.00 WIB. Meski belum masuk waktu Ashar, tapi Darto tampak bergegas ke masjid.

"Belum adzan pak. Koq sudah mau berangkat ke masjid." Tanya istrinya melihat suaminya sudah rapi.

"Iya. Nunggu di masjid nanti." Jawab Darto.

"Sudah gak pusing pak, kepalanya"

"Alhamdulillah, lumayan bu. Bapak berangkat dulu bu." Pamit Darto.

Perjalanan menuju ke masjid sendiri hanya membutuhkan waktu sekitar 7 menit. Darto yang sudah wudhu dari rumah segera menunaikan shalat tahyatul masjid. Setelah itu Darto membaca dzikir sambil menunggu waktu Ashar. Saat itu tiba-tiba kepala Darto sangat sakit, dadanya sesak. Tak ada seorang pun yang ada di dalam masjid. Darto membaringkan badannya sambil membaca istighfar berkali-kali. Sejenak kemudian Darto tak bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Dia tak merasakan apa-apa lagi di kaki dan tangannya. Sekarang Darto tak bisa merasakan apapun di pahanya dan lengan atasnya. Darto terus beristighfar. Badannya sudah mati. Matanya sudah tidak bisa melihat apa-apa lagi. Nafasnya pun telah berhenti. Darto sendiri di dalam masjid menghadapi sakaratul maut yang membawanya pergi dari dunia ini.

Pak Muslih baru saja masuk ke masjid melihat Darto sedang terbaring. Dia mengira Darto sedang tiduran. Rencananya pak Muslih akan mengumandangkan adzab, tapi entah kenapa dia seperti tergerak untuk membangunkan Darto.

"Mas, bangun mas." Kalimat itu keluar beberapa kali dari mulu pak Muslih. Tangan pak Muslih pun beberapa kali mengguncang tubuh Darto. Namun tak ada respon apapun dari Darto. Dipandangnya wajah pak Darto yang diam itu. Mukanya pucat, tubuhnya dingin, tak ada gerakan naik turun di dadanya. Tiba-tiba terbesit prasangka tentang kematian Darto. Pak Muslih pun langsung meletakkan jari tangan ke hidung Darto.

"Innalillahi wa innaillaihi rojiun. Darto sudah meninggal dunia." Ucap pak Muslih. Berita kematian Darto pun beredar cepat. Darto tetap di bawa ke rumah sakit untuk memastikan kematiannya. Istrinya historis, tak kuat mendengar berita tentang kematian suaminya. Saat jenazahnya sampai di rumah, istrinya beberapa kali pingsan. Sementara ketiga anaknya tampak begitu tabah dengan apa yang terjadi dengan bapaknya. Entah karena mereka tidak paham arti kematian, atau memang tak tahu apa yang dilakukan.

Tak ada tanda-tanda kalau Darto sakit, membuat keluarga dan tetangga banyak yang kaget. Setelah diadakan pembicara ketua RT, masyarakat dan keluarga, maka sore itu juga Darto diantaranya ke persinggahan terakhirnya.

Selamat jalan pak Darto, semoga diterima amal perbuatan dan diampuni dosanya. Dan keluarga yang di tinggalkan diberikan kesabaran... aamin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Alhamdulillah, akhir cerita anak manusia yang menghambakan diri nya kepada Allah, husnul khotimah. Mengingatkan kita untuk selalu ingat kepada-Nya. Salam sehat, bahagia dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Yanisa.

27 Mar
Balas

Iya bunda, salam bahagia... sukses selalu bunda dan barakallah

27 Mar

Masya Allah, Pak Darto husnul khatimah, seorang kepala rumah tangga yang bertanggung jawab dan oekerja ulet. Sukses selalu dan barakallah fiik

27 Mar
Balas

aamiin... inshaa Allah

27 Mar

Cerita kematian bisa menjadi ibrah bagi kita semua...Sehat dan sukses selalu..Bu Yanisa...

27 Mar
Balas

Benar sekali bunda... tapi ngomong - ngomong aku belum liat tulisan bunda?

27 Mar

He..he..tulisannya nyungsep Bu Nisa...

27 Mar

Kematian yang indah saat berniat menghadap sang Pencipta dalam keadaan suci. Salam sehat penuh barakah.

15 Apr
Balas

salam sehat selalu pak Mardi

15 Apr

Innalillahi wainnalillahi rajiun... semoga khusnul khatimah

27 Mar
Balas

aamiin bunda.. sukses selalu bunda dan barakallah

27 Mar
search