Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Elegi Indira-2

Elegi Indira-2

Jarak usia yang begitu jauh antara Yudhi dan Imel, sebenarnya sudah menjadi masalah sejak awal pernikahannya. Imel yang masih remaja, tentu belum cukup dewasa untuk bisa merawat suaminya. Keinginannya untuk dimanja, membuat dia tak mampu melayani suaminya. Sementara Yudhi sendiri yang beranjak tua membutuhkan perhatian dari istrinya. Di usianya yang lebih dari 50 tahun, tenaga Yudhi memang tak sekuat dulu. Tubuhnya gampang sekali lelah. Itulah kenapa Yudhi membutuhkan istri yang siap menjaga dirinya agar bisa fit setiap hari.

"Mas, nanti pulangnya Imel beliin bakso ya sama jeruk pontianak." Kali ini pesanan Imel ganti lagi. Hampir tiap hari Imel selalu minta di belikan makanan kesukaannya pada Yudhi.
"Iya" Yudhi menjawab singkat sambil membenahi dasinya.
"Awas lho kalau gak dapat." Ancam imel dengan wajah cemberutnya.
"Iya." Yudhi menghirup napasnya dalam-dalam. Ada kejenuhan dalam benaknya menghadapi perilaku imel yang selalu menuntut padanya.

Seringkali terbesit dibenaknya, setelah bekerja seharian, istrinya yang cantik menyambutnya di depan pintu. Dia kemudian mencium tangannya sembari memberikan senyum manisnya. Setelah mencium kening istrinya, Yudhi akan langsung masuk ke dalam rumah. Minuman teh hangat dan cemilan sore pun tampak sudah tersedia diatas meja. Istrinya akan segera meletakkan tas dan sepatu di tempatnya. Sementara dia duduk di kursi dan meminum teh hangat buatan istrinya. Setelah memakan cemilan, Yudhi akan beranjak menuju kamarnya. Dia pun merebahkan badannya diatas kasur empuk yang sudah tertata. Tak berapa lama kemudian istrinya itu akan datang menghampiri untuk memijiti tubuhnya yang seharian telah lelah bekerja.

Namun cerita itu hanya sebatas khayalan Yudhi, karena yang terjadi justru sebaliknya. Setiap hari, Yudhi lah yang harus meladeni setiap keinginan istrinya. Yudhi yang begitu menyayangi istri mudanya, selalu menuruti keinginan istrinya. Dia tak ingin membuatnya kecewa, sehingga apapun yang diperintahkan istrinya pasti dia lakukan.

Kasih sayang dari Yudhi membuat tingkah Imel makin keterlaluan. Kehamilannya sering dimanfaatkan Imel untuk meminta perhatian lebih dari Yudhi suaminya. Alasannya anak yang sedang dalam kandungan yang meminta. Yudhi pun tak bisa menolak. Pernah tengah malam Yudhi harus mencari makanan yang diminta Imel. Waktu itu Yudhi tak menemukan seperti yang di minta. Imel marah besar dan saat itu juga Imel pulang ke rumahnya. Setelah tiga hari di bujuk oleh Yudhi, baru Imel mau pulang lagi ke rumahnya.
***

"Pokoknya Imel gak mau cuci baju, Mas. Imel sudah capek mengandung anak ini. Kalau nyetrika pinggang ini kaya mau copot, sakit. Mas cari pembantu ya. Biar bantu Imel beres-beres rumah." Pinta Imel pada suaminya.

Kalau mau kecewa, sebenarnya Yudhi punya alasannya. Imel benar-benar tak bisa menjalankan perannya sebagai istri. Mencuci baju tak mau, menyetrika baju tak bisa, apalagi memasak makanan untuknya. Akhirnya Yudha pun terpaksa mencari orang untuk mencuci baju dan menyetrikanya. Sedang untuk urusan makan Imel biasa membelinya di warung. Imel memang sudah terbiasa diajak makan di luar sebelum menikah dengannya dulu. Sehingga lidahnya tak terbiasa makan masakan rumah. Kalau pun pembantunya masak, Yudhi lah yang selalu memakannya. Pulang kerja Yudhi harus memastikan diri membawa makanan pesanan istrinya.
***

Beberapa bulan dari pernikahannya, lahirlah Indira. Kebahagiaan terpancar dari wajah Yudhi. Mempunyai anak dari wanita yang dicintainya membuat Yudhi merasa menjadi laki-laki yang sempurna. Awalnya Imel pun terlihat bahagia. Menjadi seorang ibu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri untuknya. Dia merasa beruntung karena tak semua wanita mendapatkan kesempatan untuk bisa melahirkan anak dari rahimnya. Namun kebahagiaan Imel tak berlangsung lama.

Imel belia tetaplah anak remaja yang belum siap menjadi seorang ibu. Dia justru merasa mempunyai anak telah merepotkannya. Akhirnya Yudhi pun harus mengalah. Banyak tanggung jawab Imel sebagai ibu yang kemudian diambil alih olehnya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja dan sore sepulang dari kerja, Yudhi bertugas memandikan Indira putrinya.
"Mas, Indira belum mandi." Teriak Imel sambil terus memainkan hpnya. Sementara Indira tampak bermain sendiri di dekatnya.
"Iya sebentar." Jawab Yudhi. Segera dia menyiapkan perlengkapan mandi untuk Indira. Dengan gesit Yudha pun memandikan Indira kecil. Setelahnya dia akan memakaikan baju pada putrinya itu. Tangannya begitu terampil meski dia tak muda lagi. Setelah selesai semua, Indira lalu diberikan pada Imel untuk disusuinya.

Setelah lelah seharian bekerja, Yudha masih harus terbangun untuk mengganti celana Indira yang basah karena ngompol. Yudhi pun harus membuatkan susu botol untuk Indira, karena Imel tak mau tidurnya terganggu karena tangisan Indira.

Sesekali Yudhi berusaha menegur Imel, agar dia mencoba untuk merawat Indira putrinya. Namun Imel malah marah-marah. Dia menyalahkan Yudhi karena telah membuatnya hamil dan melahirkan anak. Itu kenapa dia meminta Yudhi untuk bertanggung jawab merawat Indira.
***

Kebahagiaan Yudhi dan Imel istrinya memang tak berlangsung lama. Usia Imel yang masih terlalu muda dan belum siap untuk menjadi seorang ibulah penyebabnya. Pertengkaran seringkali terjadi karena Imel yang tak mau merawat anaknya dan terkesan cuek dengan Indira. Bahkan pernah Indira yang menangis di biarkan begitu saja dan dia malah asyik ngobrol di medsos bersama teman-temannya. Tentu saja kelakuan Imel membuat Yudhi meradang.

Imel memang terlalu kekanak-kanakan, sementara Yudhi menginginkan kedewasaan Imel dalam menjalani kehidupan rumah tangganya. Hal ini kemudian menjadi dilema dalam rumah tangganya. Sejak saat itu rumah tangga Yudhi mengalami goncangan. Dan hanya butuh waktu beberapa bulan saja mereka akhirnya memilih berpisah. Desakan Yudhi agar Imel memperhatikan Indira, membuatnya tidak suka. Imel marah, dan pergi dari rumah meninggalkan anaknya itu bersama Yudhi. Yudhi sudah berusaha membujuknya untuk kembali. Tapi Imel sudah tak mau lagi. Satu kali dia membawa Indira ke rumahnya agar Imel tersentuh jiwa keibuannya.
"Anakmu membutuhkanmu Imel. Kasihan. Indira masih butuh air susu ibunya. Kamu pulang ya. Sekarang kamu bebas melakukan apa saja. Yang penting tolong Indira kamu susui. Karena air susu ibu sangat dibutuhkan untuk perkembangannya." Yudhi berusaha membujuk Imel. Namun Imel tak bergeming. Bahkan saat dia melihat anaknya menangis, hatinya sama sekali tak tersentuh. Dia hanya menggendongnya sebentar, dan tetap tak mau menyusuinya. Akhirnya Yudhipun mengambil Indira dari gendongan Imel dan memberi susu formula yang dibawanya dari rumah.
***

Tak berapa lama setelah kepergiannya dari rumah, Imel menggugat cerai. Kondisi keuangan Yudhi saat itu menjadi alasan lain Imel memilih untuk berpisah dari Yudhi. Usaha Yudhi memang agak turun beberapa bulan ini. Perusahaannya sedang goyah. Ada pesaing yang membuat usahanya mengalami penurunan omset.

Keuangan Yudhi hancur. Keadaan ini tentu saja membuat Yudhi tak bisa lagi memenuhi kebutuhan Imel. Dan hal itulah yang membuat Imel kehilangan cintanya dan memilih pergi darinya.
"Aku menikah dengan Mas Yudhi ingin hidup senang. Bisa jalan-jalan. Mestinya Mas itu bisa bayar pembantu satu lagi khusus untuk merawat Indira. Aku tak mau diribeti oleh urusan anak mas. Tapi mas sekarang tahu sendiri. Mas sudah gak punya uang. Usaha Mas sudah mau bangkrut. Pokoknya aku mau cerai. Aku tidak mau hidup susah." Begitu ucap Imel sebelum dia akhirnya meninggalkan kota ini. Urusan cerai dia serahkan pada pengacaranya. Imel pun pergi entah kemana, bahkan keluarganya sendiri tak tahu keberadaannya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Pengorbanan untuk cinta. Yes!

24 Mar
Balas

hehehe... jos pak Tanto

24 Mar

Masya Allah..tragis Bun? Ditunggu kisah berikutnya semoga ada titik terang

24 Mar
Balas

oke... semangat bun

24 Mar

Hmm..., ujian untuk Yudhi kah? Lanjuuut. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda.

24 Mar
Balas

siap bunda... sukses selalu bunda

24 Mar

MasyaAllah...

24 Mar
Balas

sukses selalu bunda

24 Mar

Aaamiiin... barokallah bu Yuni

25 Mar
search