Yanisa Yuni Alfiati

Guru SMA Negeri 1 Padamara Mapel Biologi Unnes ...

Selengkapnya
Elegi Indira-5

Elegi Indira-5

Yati kembali melangsungkan pernikahannya dengan Yudhi sekalipun hanya pernikahan siri. Walimahan hanya dibagikan pada tetangga sebagai syiar bahwa mereka berdua kembali menjadi suami istri. Sejak saat itu Indira kecil mulai tinggal bersama Yati. Sementara itu Tari dan Sari, kakak tiri Indira masih belum bisa menerima kehadirannya ditengah-tengah mereka.

"Tari, tolong Indira nangis. Udah bangun tuh. Ngompol kali Ri. celananya di ganti kalau memang ngompol. Sekalian dikasih minum susu" Teriak Yati dari dapur. Yati ketanggung sedang masak ketika tangis Indira tiba-tiba terdengar.

"Tari lagi belajar, Bu. Mba Sari tuh yang lagi nonton tivi." Suara Tari terdengar dari dalam kamar. Tari memang sebentar lagi ujian, sehingga dia harus mempersiapkan diri dengan banyak belajar.

"Sari, tolong itu Indira nangis." Yati kembali berteriak meminta Sari untuk menenangkan tangis Indira. Mendengar teriakan Ibunya, Sari hanya diam. Dia tak bergeming dan tetap asyik melihat televisi.

"Sariiiii......." Kali ini suara Yati lebih keras. Mendengar teriakan Ibunya, Sari pun dengan langkah malas menuju ke tempat tidur untuk mengganti celana Indira dan memberinya susu. Beruntung Indira langsung terdiam begitu mendapatkan susu. Digendongnya Indira menuju ruang tengah. Indira langsung direbahkan diatas kasur lantai yang sudah tersedia. Sari pun membiarkan Indira bermain sendiri, sementara dia kembali asyik dengan menonton televisi.

***

Kalau mau jujur, Yati pun tak bisa tulus merawat Indira. Seringkali muncul rasa kebencian dibenak Yati melihat Indira. Namun Yati segera menepis perasaannya. Dia pun terus berusaha untuk ikhlas merawatnya. Yati mencoba bersabar menerima kenyataan yang ada. Meski semua tak mudah untuknya. Siapapun wanita yang ada di dunia, memang sangat berat kalau disuruh merawat anak hasil selingkuhan dari suaminya.

Bapaknya Indira pun terkesan tak peduli. Hari-harinya hanya sibuk mencari uang. Jika seminggu sekali dia datang, hanya sebentar saja dia menggendong Indira. Selebihnya waktu yang ada dia gunakan untuk tidur, melepas lelah setelah satu minggu bekerja. Usaha Yudhi yang tak seperti dulu membuat keuangannya seret. Kebutuhan susu Indira tak mesti tercukupi. Kalau sudah begini, Indira mendapatkan ganti teh manis diselingi air tajin.

Dalam merawat Indira, tentu saja rasa sayang yang Yati berikan padanya tak sama seperti yang diberikan pada Tari dan Sari. Dibilang pilih kasih, mungkin bisa saja. Kalau Indira menangis, tak langsung Yati gendong. Apalagi kalau Yati sedang sibuk di belakang, Indira akan dibiarkannya. Beberapa kali bahkan Bu Imah tetangganya datang karena mendengar tangis Indira yang tak kunjung reda.

"Indira panas." Bu Imah terus menggendong Indira.

"Iya. Tadi sudah aku beri obat turun panas." Yati terus saja menggosok baju.

"Jam berapa tadi dikasih obat? Tanya Bu Imah sambil memegang jidat Indira, "Koq panasnya masih belum turun." Bu Imah memandang wajag mungil Indira. Dia langsung terdiam begitu mendapat sentuhan lembut dari bu Imah. Bibir Indira bergetar. Hawa panas keluar dari mulut mungilnya. Suhu tubuhnya sangat tinggi.

"Dua jam yang lalu. Nanti juga panasnya turun." Tak ada ekspresi khawatir di raut muka Yati. Bu Imah sudah tak tega melihat Indira yang terdiam tak bersuara.

"Kita bawa ke dokter, Ti." Ajak Bu Imah. Dia terus menepuk-nepuk tubuh Indira yang suhunya makin memanas.

"Mas Yudhi belum pulang. Tiga hari lagi dia baru pulang. Gak ada uang untuk berobat. Minggu kemarin saja Mas Yudhi hanya ngasih uang sedikit." Yati mencoba memberi penjelasan.

"Kamu kan bisa pinjam uang dulu. Kalau kenapa-napa dengan Indira, gimana?" Tanya bu Imah lirih. Ia tak berani meneruskan kalimatnya.

"Ya itu sudah takdir. Aku sudah berusaha memberinya obat. Aku tidak membiarkannya." Jawab Yati datar. Mendengar jawaban itu batin Bu Imah bergejolak. Bagaimana mungkin Yati tega membiarkan Indira sakit panas dengan suhu yang demikian tinggi.

"Ya sudah, biar aku bawa dia ke dokter. Mana susunya?" Tanya bu Imah.

"Itu di meja. Tapi aku tidak punya uang untuk membayar dokter." Yati berhenti menyetrika baju. Dia berdiri dan mendekati Indira. Di pegangnya jidat Indira dengan punggung tangannya. Raut wajah Yati berubah, tampak sedikit ada kekhawatiran di wajahnya.

"Nanti pakai uangku." Ucap bu Imah sambil menggendong Indira.

"Terima kasih bu Imah." Yati tak bergeming dari tempatnya berdiri. Dia membiarkan Indira di gendong bu Imah untuk di bawa ke dokter.

"Yati, ayo. Kamu ikut. Kamu kan ibunya." Teriak bi Imah dari luar rumah.

"Oh, saya ikut bu? " Tanya Yati.

" Iya lah. Kamu panggil becak. Kita pergi de dokter Toni." Suara bu Imah agak meninggi dan itu membuat Indira terbangun dari tidur. Dia kemudian menangis. Bu Imah langsung memberikan dot susu yang dibawanya tadi.

Sepulang dari berobat, Indira tetap bersama bu Imah. Bu Imah khawatir dengan kesehatan Indira, melihat sikap Yati dan anak-anaknya yang tampak kurang memperhatikan Indira. Tentu saja Yati sangat senang karena ada orang yang mau merawat Indira.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Waduh..terlambat sudah episode 5 ...btw keren cerpennya ditunggu kisah selanjutnya semoga Indira membaik...barakallah

25 Mar
Balas

siap... sukses

26 Mar

Indira bersyukur ada Bu Imah yang dikirim sebagai bidadari penolong. Hati yang sakit, terkadang sulit dibujuk hingga menutupi rasa iba yang ada di dalamnya. Lanjuuutttt. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah, Bunda Yanisa.

25 Mar
Balas

siapppp.. sukses selalu bunda dan barakallah

25 Mar

Suasana semakin tak kondusif Bund. Sukses ceritanya Bund. Barakallah fiik

25 Mar
Balas

hehehe.. iya bun... sukses selalu bunda dan barakallah

25 Mar

Duh...terlambst nih...sudah episode 5...Semoga kasih sayang kepada Indira akan tetap ada...Sukses Bu Yanisa..Barakallah...

26 Mar
Balas

aamiin... sukses selalu bunda

26 Mar
search